Daily News | Jakarta – Anies menjelaskan strategi pengendalian banjir di Jakarta yang sering menjadi sorotan media. Anies mengatakan bahwa salah satu strategi yang digunakan adalah dengan membuat taman yang dapat menampung air hujan.
Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 itu mengungkapkan strategi pengendalian banjir di Jakarta dengan menggunakan Key Performance Indicator (KPI). Anies memberikan contoh, jika Sungai Ciliwung memiliki kapasitas di bawah 900 dan kampung di sekitarnya masih banjir, maka itu berarti ada kesalahan dalam pengelolaan banjir di Jakarta.
“Jadi waktu saya tugas kemarin, saya bilang sekarang kita rumuskan saja KPI kita apa. KPI-nya kalau sampai misalnya nih, Sungai Ciliwung di bawah 900 tapi kanan kiri kampungnya banjir, berarti itu salah DKI. Wong itu di bawah kapasitas kok banjir,” kata Anies dikutip KBA News di kanal YouTube pribadinya di Jakarta, Selasa 11 November 2025.
Anies menjelaskan bahwa KPI ini digunakan untuk menentukan apakah banjir yang terjadi disebabkan oleh kesalahan pengelolaan atau karena faktor lain seperti curah hujan yang tinggi. Jika banjir terjadi karena kesalahan pengelolaan, maka KPI akan digunakan untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem pengendalian banjir.
“Berarti ada yang salah tuh. Ada lubang, ada apa. Nah kemudian hujan kalau hujannya sampai dengan 50, maka terjadi banjir. Berarti ada yang macet,” ujarnya.
“Tapi kalau di atas 50 dan banjir ya memang pasti banjir. KPI-nya kalau di bawah kapasitas terjadi banjir salah kita. Kalau di atas kapasitas dan terjadi banjir datang maka KPI-nya adalah berapa jam itu kering,” sambungnya.
Anies menekankan bahwa banjir bisa dihindari jika penanganan di darat optimal. Anies memberikan contoh dengan menuangkan air ke dalam sebuah gelas hingga kepenuhan, sehingga mengalami banjir.
“Sudah terjadi nih, nih saya tuangin air di sini (gelas). Tuangin penuh, luber basah ke mana-mana. Iya, karena ini terlalu penuh, kebanyakan air,” imbuh Anies.
Anies menekankan bahwa dalam kondisi demikian, banjir seharusnya bisa dihindari jika penanganan di darat optimal. “KPI-nya berapa banyak dan berapa lagi kering? Nah, kemarin disepakati enam jam. Enam jam sesudah hujan berhenti, maka harus kering,” tambah Anies.
Kemudian mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menjelaskan strategi pengendalian banjir di Jakarta yang sering menjadi sorotan media. Anies mengatakan bahwa salah satu strategi yang digunakan adalah dengan membuat taman yang dapat menampung air hujan.
Anies menuturkan beberapa taman di Jakarta dibangun lebih rendah daripada permukaan sungai dan di samping sungai, sehingga ketika hujan air sungai dapat mengendangi taman dan mengurangi risiko banjir di kampung-kampung sekitar.
“Taman itu beberapa taman kemarin kita bangun itu lebih rendah daripada permukaan sungai. Di samping sungai, fungsinya supaya ketika hujan air sungai itu mengendangi taman. Supaya tamannya itu, supaya tidak kampung,” jelasnya.
Namun, Anies mengakui bahwa strategi ini sering disalahartikan. “Tapi kan jadi berita, tamannya banjir. Wah, kaget,” ungkap Anies.
Kegunaan waduk di Jakarta
Anies mempertanyakan kegunaan waduk yang hanya terpakai lima kali setahun. Sehingga dia memutuskan untuk membuat konsep ‘ruang limpah sungai’.
“Terus buat apa kita bikin waduk segede begini? Kalau dipakainya cuma lima kali setahun, kan bisa dipakai taman. Bisa pakai main anak-anak. Akhirnya dibuat konsep namanya ruang limpah sungai. Ketika aliran air itu rendah, volumenya ditutup,” paparnya.
Kemudian dengan membuat waduk atau taman seperti di Waduk Brigif dan Waduk Lebak Bulus, lanjut Anies, justru dirancang untuk menampung air sungai ketika meluap. Ketika aliran air rendah, volumenya ditutup sehingga area tersebut dapat digunakan sebagai taman atau tempat bermain anak-anak.
“Ketika aliran air itu rendah, volumenya ditutup. Jadi, daerah ini bisa dipakai buat main-main. Nanti ketika sudah mulai hujan gede, itu dibuka. Sehingga itu dipakai untuk menampung air tadi selama musim hujan enggak dibuka,” tutup Anies. (DJP)



























