Daily News | Jakarta – Anies menerangkan bahwa kita ini juga pernah ada di satu periode di mana data dan informasi yang diungkapkan oleh pemerintah itu dicek ulang oleh publik ke media.
Maka, sekarang ini, kita berada pada masa atau era yang unik. Periode, di mana ada keraguan kepada semuanya. Itu menjadi problem yang ada di dalam demokrasi kita. Kenapa ada keraguan?
‘’Karena opini yang sering dibentuk itu mengandalkan penggaung-penggaung yang besar. Biasa disebut buzzer. Unfortunately (sayangnya, red), negara juga meng-hire mereka,’’ kata tokoh nasional, Anies Rasyid Baswedan.
Anies mengatakan hal tersebut dalam podcast di kanal YouTube Big Alfa sebagaimana dikutip KBA News, Rabu, 13 Agustus 2025. Mengenakan baju biru dongker, Gubernur Jakarta periode 2017-2022 ini, menambahkan bahwa hal tersebut kemudian mengganggu kredibilitas.
‘’Sehingga, pada akhirnya orang atau masyarakat bertanya ulang. Apakah informasi yang disampaikan tersebut akurat atau tidak? Sebenarnya kalau dari sisi negara bukan gaung yang dibutuhkan tapi truth-nya, fact-nya,’’ terang Anies yang juga mantan Rektor Universitas Paramadina Jakarta itu.
Kenapa? Lanjut Anies, kenyataan itu akan bertahan lebih lama dari sebuah pernyataan. ‘’Karena kenyataan maka stays much longer dari pada pernyataan. Kalau pernyataan-pernyataan yang muncul itu sebentar saja,’’ kata dia.
Anies curiga keberadaan yang digaungkan tersebut bisa membuat krebilitas atas informasi yang disampaikan itu menjadi berkurang. ‘’Tapi, saya mengatakan, tidak usah khawatir karena hal tersebut akan selalu ada. Ada saatnya digugat, tapi waktu akan membuktikan yang benar yang mana? Nggak harus menang kok di dalam mengggaungkannya,’’ ujar Mendikbud RI periode 2014-2016 itu.
Anies menerangkan bahwa kita ini juga pernah ada di satu periode di mana data dan informasi yang diungkapkan oleh pemerintah itu dicek ulang oleh publik ke media. Hal tersebut terjadi pada zaman Orde Baru. ‘’Waktu itu pemerintah mengatakan A, B, C, dan D. Kemudian, masyarakat atau publik mengecek ulang di media. Media menjadi tempat publik untuk bertanya.’’
Kemudian, muncul periode lagi di mana media itu berlomba dengan kecepatan informasi. Sehingga menomorduakan akurasi. ‘’Pada saat itu, orang atau publik nanyanya kepada pemerintah. Ketika media bilang A, B, C, dan D, publik bertanya kepada pemerintah : is it true?’’ jelas Anies. (DJP)