Daily News | Jakarta – Mungkin kita tak berbakat menjadi negeri superpower di bidang militer atau ekonomi, tetapi jelas kita berpotensi menjadi superpower di bidang kemanusiaan.
Itu karena Indonesia memiliki keunggulan diplomasi yang jarang dimiliki negara lain: kepedulian tulus terhadap sesama. Hal ini diungkapkan diplomat senior Hazairin Pohan dalam program Panggung Belakang KBANews TV yang dipandu Buni Yani.
Menurut Hazairin, diplomasi kemanusiaan merupakan salah satu bentuk soft power yang paling kuat dan efektif dalam membangun citra positif di dunia internasional. “Bertahun-tahun, World Giving Index menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia. Ini bukan sekadar angka, tetapi potret watak bangsa yang religius, gemar bergotong royong, dan peduli pada sesama,” ujarnya.
Ia menilai potensi tersebut belum tergarap optimal. Aksi kemanusiaan masyarakat Indonesia selama ini lebih banyak digerakkan oleh inisiatif individu dan lembaga swadaya masyarakat, sementara peran pemerintah masih bersifat fasilitatif.
“Kalau potensi ini dikelola melalui ekosistem yang sehat, terukur, dan terintegrasi, Indonesia bisa menjadi pemimpin diplomasi kemanusiaan dunia,” tambahnya.
Contoh sukses: Pulau Galang
Hazairin mencontohkan Pulau Galang di Batam yang pada akhir 1970-an hingga 1990-an menjadi rumah sementara bagi lebih dari 250.000 pengungsi Vietnam. Pulau itu kini dikenang sebagai simbol kemanusiaan Indonesia.
“Bahkan anak dan cucu mereka rutin datang reuni ke Pulau Galang. Ini membuktikan diplomasi kemanusiaan memiliki daya simpan memori yang panjang,” jelasnya.
Peran generasi muda di PBB
Data yang dipaparkan Hazairin menunjukkan 65% anak muda Indonesia bersedia menjadi relawan internasional, angka tertinggi di dunia. Menurutnya, ini peluang emas untuk memperkuat posisi Indonesia di forum global seperti PBB.
“Bayangkan jika kita mendaftarkan mereka ke roster relawan PBB, dilengkapi pelatihan dan sertifikasi profesional. Mereka akan menjadi duta kemanusiaan yang membawa nama baik bangsa,” katanya.
Indonesia sendiri telah berpartisipasi lebih dari 50 kali dalam misi perdamaian PBB. Reputasi pasukan perdamaian Indonesia dikenal positif: rendah hati, dekat dengan masyarakat, dan mau membantu di luar tugas militer. “Karakter itu yang membuat kita disukai di negara-negara tempat kita bertugas,” tutur Hazairin.
RekomendasisStrategis
Hazairin mengusulkan pembentukan National Humanitarian Fund untuk menghimpun dana publik secara transparan bagi aksi kemanusiaan lintas negara. Ia juga menekankan pentingnya pelatihan relawan di Peacekeeping Center Sentul serta kolaborasi erat antara pemerintah, LSM, dan lembaga internasional.
“Jepang mungkin punya budaya pop, Korea punya K-pop. Kita punya sesuatu yang lebih tulus: kemauan untuk membantu tanpa pamrih. Itulah soft power kita,” tegasnya.
Dengan pengelolaan yang tepat, Hazairin optimistis Indonesia akan diakui dunia bukan hanya sebagai negara besar di ASEAN, tetapi juga sebagai pemimpin kemanusiaan global. “Saat dunia berbicara tentang kemanusiaan, saya ingin Indonesia menjadi rujukan utama,” tutupnya. (HMP)