Daily News | Jakarta – Jika digabungkan dengan semester II 2024, kerugian yang ditanggung KAI dari proyek Whoosh sudah mencapai Rp1,9 triliun dalam setahun terakhir. Sementara sepanjang tahun kalender 2024, total kerugian bahkan menembus Rp2,69 triliun.
Begitulah, banyak warisan Presiden Jokowi yang kini menjadi beban negara. Salah satunya yakni proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.
Alih-alih untung, proyek ambisius ini kini mencatatkan kerugian besar dan membebani PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
Kereta Cepat Whoosh berawal dari gagasan pembangunan jalur kereta cepat pertama di Indonesia yang menghubungkan Jakarta dan Bandung.
Proyek ini diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 2 Oktober 2023 dengan nama “Whoosh” yang merupakan singkatan dari “Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat” dan juga terinspirasi dari suara kereta yang melesat kencang.
Kereta ini diklaim bagian dari modernisasi transportasi massal Indonesia dan menjadi yang tercepat di Asia Tenggara, beroperasi dengan kecepatan 350 km/jam.
Kerugian Rp2,69 T
Kini, kerugian itu menjadi perhatian banyak pihak. Salah satunya Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri, Handi Risza. Dari catatannya, kondisi keuangan Kereta Cepat hingga semester I 2025 mencatatkan kerugian besar.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per Juni 2025, KAI menanggung rugi Rp951,48 miliar dari kepemilikan saham mayoritasnya di konsorsium pengelola Whoosh, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), di mana KAI memiliki 58,53 persen saham.
“Jika digabungkan dengan semester II 2024, kerugian yang ditanggung KAI dari proyek Whoosh sudah mencapai Rp1,9 triliun dalam setahun terakhir. Sementara sepanjang tahun kalender 2024, total kerugian bahkan menembus Rp2,69 triliun,” katanya dikutip KBA News dari laman resmi PKS, Senin, 25 Agustus 2025.
Menurutnya, KAI telah menanggung beban kerugian sejak Kereta Cepat Whoosh mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2023. Tingginya biaya investasi dan operasional belum mampu ditutup oleh kontribusi pendapatan dari tiket.
Adapun total investasi proyek Kereta Cepat Whoosh tercatat sebesar US$7,2 miliar atau setara Rp116,54 triliun (asumsi kurs Rp16.186 per dolar AS), termasuk tambahan biaya (cost overrun) sebesar US$1,2 miliar atau Rp19,42 triliun.
Ia menekankan perlunya langkah konkret dari pemerintah agar proyek ini dapat memenuhi nilai ekonomi yang berkelanjutan. Ia menilai pengembangan Whoosh harus dilakukan secara terintegrasi dengan jaringan transportasi lain untuk meningkatkan konektivitas.
Menurutnya, optimalisasi jaringan transportasi harus dilakukan untuk menciptakan keterhubungan antarmoda, terutama akses menuju kereta cepat.
“Selain itu, pemerintah juga perlu menambah sumber penerimaan di luar tiket, misalnya melalui pengembangan kawasan berbasis transit atau layanan komersial lain yang bisa menghasilkan,” ujarnya.
Bom waktu
Sementara itu, saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR beberapa waktu lalu, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengaku bahwa utang operator Kereta Cepat sebagai bom waktu bagi keuangan KAI sendiri.
“Kami yakin dalam satu minggu ke depan, kami bisa memahami semua kendala-kendala, permasalahan-permasalahan yang ada di dalam KAI ini,” katanya.
“Terutama kami dalami juga masalah KCIC yang seperti yang disampaikan tadi, memang ini bom waktu,” tambahnya.
Ia mengusulkan agar utang Kereta Cepat itu bisa direstrukturisasi. Nantinya, hal ini juga akan dikoordinasikan dengan Danantara. “Terakhir adalah usulan restrukturisasi PSN Kereta Cepat Jakarta-Bandung,” ujarnya. (DJP)