Daily News | Jakarta – Nama Tom Lembong bukanlah sosok asing di dunia politik dan ekonomi Indonesia. Mantan Menteri Perdagangan era Presiden Joko Widodo sekaligus mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini dikenal dengan gaya bicara lugas serta pemikiran yang rasional.
Di balik sosoknya sebagai teknokrat, Tom ternyata menyimpan kisah personal penuh risiko ketika memutuskan untuk mendampingi Anies Baswedan dalam kontestasi politik nasional atau Pilpres 2024.
Dalam sebuah podcast bersama Leon Hartono yang disiarkan di kanal YouTube, Tom mengungkap bagaimana pilihannya pada 2022 menjadi titik balik kehidupan. Keputusan itu bukan sekadar langkah politik, melainkan taruhan besar yang membawa konsekuensi hingga menyentuh keluarganya.
“Sejak tahun 2022 saya sudah mengambil pilihan, dan ini sangat berisiko. Hal itu sudah saya sampaikan kepada anak dan istri jauh sebelum Pilpres 2024,” ujar Tom dikutip KBA News, Minggu, 24 Agustus 2025.
Ia menuturkan, langkahnya mendampingi Anies Baswedan bukan keputusan mudah. Menurutnya, keputusan itu berarti harus berhadapan langsung dengan penguasa yang ia sebut agresif. “Memang sulit, tapi itu jalan yang saya tempuh bersama Anies Baswedan. Kami menjunjung tinggi idealisme, meski harus berhadapan dengan rezim yang begitu agresif,” kata Tom Lembong.
“Saya bisa bilang begitu (penguasa agresif) dan berisiko karena saya pernah di pemerintahan, sehingga tahu risiko itu,” imbuh pria bernama lengkap Thomas Trikasih Lembong.
Risiko tersebut, lanjut Tom, terbukti pada 19 Oktober 2024. Saat itu ia ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi impor gula, dipakaikan rompi tersangka oleh kejaksaan, dan ditampilkan di hadapan media massa. Momen itu disebutnya sebagai pukulan besar, terutama bagi keluarga.
“Istri dan anak saya saat itu sedang berada di Amerika Serikat untuk melihat-lihat kampus. Mereka syok. Namun ketika menjenguk saya di tahanan, justru pengalaman ini membuat keluarga kami makin dekat, solid, kuat, dan tabah,” tuturnya.
Tom menilai ujian hidup bisa memperkokoh ikatan keluarga sekaligus memberi kebijaksanaan. “Malapetaka dan kejadian buruk bisa membuat kita lebih bijaksana dan kuat,” ujarnya.
Host podcast, Leon Hartono, lantas menyinggung harta kekayaan Tom yang pernah dilaporkan mencapai Rp100 miliar dalam LHKPN 2019. Leon mempertanyakan alasan Tom tetap mengambil risiko besar, padahal dengan kekayaan sebesar itu ia bisa hidup nyaman.
“Orang dengan kekayaan sebesar itu misalnya dimasukkan ke Reksadana obligasi, bisa mendapat penghasilan Rp7 miliar per tahun. Itu bisa hidup senang, makan di restoran tiap hari, tidak perlu pusing. Kok bisa Pak Tom pada tahun 2022 mau mengambil risiko seperti ini?”
Menjawab itu, Tom menegaskan hidup bukan sekadar soal materi. “Publik makin sadar bahwa hidup bukan hanya materialistis. Tujuan hidup adalah aktualisasi diri dan kepuasan batin—spiritual, mental, dan kenyataan bahwa hidup punya makna, sesuai norma, nilai, serta harmoni dengan lingkungan,” ungkapnya.
Tom menambahkan, pada titik tertentu setiap orang akan sampai pada persimpangan: memilih bertahan dalam kemewahan atau mencari arah hidup yang lebih dalam. “Ke depan, saya yakin akan semakin banyak orang memilih jalan aktualisasi diri dan nilai,” pungkas Tom Lembong. (AM)