Daily News | Jakarta – Kenapa ada keraguan? Karena opini yang sering dibentuk mengandalkan penggaung besar atau buzzer, bahkan negara juga menggunakan mereka. Itu mengganggu kredibilitas dan membuat publik bertanya-tanya apakah informasi benar atau tidak.
Maka, Anies Baswedan menyoroti fenomena menurunnya kepercayaan publik terhadap informasi resmi pemerintah. Menurutnya, kondisi ini salah satunya dipengaruhi oleh maraknya buzzer yang justru mengganggu kredibilitas institusi negara.
Pernyataan itu disampaikan Anies saat menjadi tamu dalam podcast Big Alpha. Dalam kesempatan tersebut, host menanyakan kepada Anies mengapa publik sering tidak percaya pada informasi resmi pemerintah.
Host mencontohkan saat bikin konten data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut pertumbuhan ekonomi kuartal II mencapai 5,12 persen, lebih tinggi dari ekspektasi banyak pihak. Meski data itu resmi, publik justru banyak yang meragukannya.
Menanggapi pertanyaan itu, Anies menyebut fenomena tersebut bukan hal baru. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, publik pernah berada di berbagai fase dalam memandang informasi dari pemerintah.
“Ini memang sebuah fenomena. Kalau kita melihat perjalanan Indonesia dalam jangka panjang, pernah ada masa di mana data pemerintah dicek ulang oleh publik melalui media. Itu di era Menteri Penerangan. Saat itu, ada hal-hal yang tidak boleh ditulis seperti Dwifungsi ABRI atau keluarga pejabat. Tetapi di luar itu, publik masih bisa berdebat,” jelas Anies dikutip KBA News, Senin, 25 Agustus 2025.
Ia melanjutkan, pada periode berikutnya, media lebih mengutamakan kecepatan daripada akurasi. “Misalnya, media A menyebut korban sekian, media B menyebut angka berbeda. Maka publik akan mengecek kebenarannya ke pemerintah,” katanya.
Era keraguan dan buzzer
Menurut Anies, kondisi saat ini berbeda. Publik berada di era penuh keraguan karena opini sering dibentuk oleh buzzer.
“Ada keraguan pada semua pihak. Ini mungkin salah satu problem demokrasi kita. Kenapa ada keraguan? Karena opini yang sering dibentuk mengandalkan penggaung besar atau buzzer, bahkan negara juga menggunakan mereka. Itu mengganggu kredibilitas dan membuat publik bertanya-tanya apakah informasi benar atau tidak,” ungkapnya.
Anies menekankan, yang dibutuhkan negara adalah kebenaran, bukan sekadar gaung. “The fact lasts longer. Kalau pernyataan hanya sementara. Saya curiga program-program yang terlalu digaungkan justru membuat kredibilitas informasi berkurang,” tegasnya.
Meski begitu, ia mengajak publik untuk tidak resah. “Ketika pernyataan digugat, nanti waktu yang akan membuktikan mana yang benar. Sama seperti sekarang, apa yang ramai dibicarakan belum tentu benar dan substansial. Keraguan itu pada akhirnya akan terjawab dengan kenyataan,” pungkas Anies. (DJP)