Daily News | Jakarta – “Mudah diduga dan diramalkan, kasus Jokowi akan memicu kasus Gibran. Kita harapkan Polisi tidak memeti-eskannya. Jika kasus Jokowi selesai maka kita boleh berharap kasus Gibranpun akan mengubah jalan politik nasional.”
Begitulah, bagi trio penelisik ijazah Jokowi, yaitu Roy Suryo, Rismon Sianipar dan Tifauziyah Tyassuma (dikenal dengan sebutan Trio RRT) kasus Jokowi itu tidak berhenti melainkan berlanjut pada kontroversi ijazah anaknya Gibran Rakabuming Raka yang sekarang menjadi Wakil Presiden. Masyarakat diharapkan terus mendukung agar kedua kasus ini diselesaikan dan tidak membebani sejarah Indonesia di masa depan.
Pengamat politik senior yang juga gububesar riset dari LIPi Ikrar Nusa Bakti menyatakan hal itu Senin, 17 November 2025, menanggap keriskuhan politik dan hukum yang melibatkan Jokowi dan para pengeritiknya terutama Trio RRT. Dia menduga kasus ini akan panjang karena bukan hanya masalah ijazah Jokowi tetapi juga status pendidikan Gibran yang tidak jelas.
“Mereka berpendapat pendidikan Gibran tidak jelas sejak di Jakarta hingga di Singapura dan Sidney. Dia dipastikan tidak tamat SMA. Jika itu bisa dibuktikan maka menjadi ancaman pemakzulan baginya karena UU menyebutkan salah satu syarat untuk ikut kontestasi Pilpres harus sekurang-kurangnya tamat SMA,” kata alumni Jurusan Ilmu Politik FISIP UI itu.
Dikatakan oleh mantan Dutabesar RI untuk Republik Tunisian itu, Trio RRT sudah menyelesaikan penelitian mereka atas ijazah palsu Jokowi dan sudah terangkum dalam buku setelal 700 halaman, Jokowi’s White Paper. Sekarang mereka fokus kepada ijazah Gibran yang dipergunakannya dalam pencalonan sebagai Cawapres dalam Pilpres 2024. Mereka sedang mempersiapkan buku tentang hal itu yang berjudul Gibran’s Black Paper.
Ditambahkannya, kalau anda membuka Youtube bahkan Dr Rismon Sianipar sudah memberikan kita buku berjudul Gibran End Game, Wapres yang Tidak Lulus SMA. Buku itu diberikan ke publik dan silakan mendown-load bukan hanya membaca tetapi memiliki. Ini adalah buku pamungkas yang juga menggambarkan bahwa Gibran itu juga sebetulnya tidak memilik ijazah SMA.
Bagaimana pun juga, tambah Ikrar, pendidikan Gibran kacau baik ketika di Singapora dan maupun di Sidney. Bahkan sejak di Indonesia sudah jelas pendidikannya kacau. Buku ini sudah tersebar luas dalam bentul PDF dan orang bisa mengambilnya lewat download. Untuk menjaga dan menghormati hak cipta di setiap halaman naskah itu tercantum nama Rismon, sebagai pengarang.
‘Saya sudah mendapatkannya dan buku itu sangat menarik. Anda tinggal buka dan semuanya tersaji lengkap. Dalam beberapa ratus halaman. Dalam waktu dekat Trio RRT akan menerbitkan buku kedua tentang keluarga Jokowi yang berjudul Gibran’s Black Paper. Kenapa judulnya begitu? Karena kebetulan mereka melihat jalur pendidikan Gibran itu benar-benar tidak jelas. Black = hitam,” kata Ikrar.
Dimuat di laman publik
Jadi, tekan peraih gelar doktor ilmu politik dari Griffith University Brisbane Australia itu, apa yang pernah dimuat di situs laman Setneg, apa yang tertera di LKBN Antara, dan yang tersebar di masyarakat, tentang bagaimana CV Gibran sebagai wakil presiden, bagaimana strata dan tingkatan poendidikannya, semuanya benar-benar tidak jelas alias black. Ini yang sedang Trio RRT kembangkan dalam beberapa waktu lagi akan meledak di masyarakat.
“Ini yang menurut saya, Jokowi sangat khawatir. Makanya dia desak Mapolda Metro Jaya menggembar-gemborkan kembali bagaimana Jokowi merasa terhina dengan pemberitaan dari 8 aktivis bahwa ijazah palsu. Dia sangat berusaha keras agar para peneliti ijazah Gibran itu tidak nemenyelesaikan kerjanya untuk meneliti dan menguliti ijazah Gibran.”
Kita tunggu saja drama ini apakah Polri melanjutkan atau menghentikan kasus ini. Kalau tetap dilanjutkan maka akan semakin ramai dan gaduh. Tetapi yang jelas, jika Mapolda meneruskan kasus ini berarti mereka membuat masalah yang fatal. Mengapa? Sebab, kalau menuduh orang melakukan pencemaran nama baik, maka harus yang dicemarkan itu melakukan pelaporan, termasuk Jokowi. Tetapi, ternyata Jokowi tidak penah melaporkan nama-nama. Dia cuma melaporkan bahwa ada orang yang mencemarkan nama baiknya seakan-akan dia mempunyai ijazah palsu.
Semua itu, merupakan kreativitas Polda sendiri yang menetapkan nama 8 orang itu. Ditambahkannya, kita lihat tidak ada hal-hal yang bisa ditutupi oleh Polri mengenal ijazah palsu Jokowi. Mengapa Roy Suryo cs tidak ditahan? Alasan Polda karena Roy cs memiliki saksi-saksi ahli yang kuat dan juga yang meringankan yang cukup banyak.
Padahal kita juga tahu bahwa PMJ juga tidak bisa berbuat apa-apa sebab pertama, Jokowi tidak pernah menyebutkan nama-nama. Kedua, PMJ sendiri tidak pernah melakukan apapun terhadap kasus Silfester Matutina yang jelas-jelas mangkir jalani hukuman padahal kasusnya sudah inkraach. Dia dihukum pidana 1 tahun 6 bulan penjara karena terbukti mencemarkan nama baik Jusuf Kalla. Tetapi sampai saat ini telah borun.
Hal-hal lain akan seru adalah bagaimana pun orang-orang yang akan dihadirkan dalam pekara ini sebagai saksi dan ahli oleh Roy Suryo cs benar-benar orang-orang yang sangat memiliki ilmu. Yang jelas PMJ tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Roy Cs karena yang mereka hadapi bukanlah seperti kasus Bambang Tri Mulyono dan Gus Nur yang oleh polisi dengan mudah ditangkap, tersangka dan diadili.
Mereka, tambah Ikrar, tidak bisa berbuat apa-apa terhasap Roy Cs dan Eggy Sudjana Cs karena orang-orang ini adalah orang-orang yang benar-benar siap menghadapi kasus ini. Mereka sudah berjuang dan mempersiapkan diri sejak lama, matang dan berpengalaman dalam menghadapi kasus ini dengan fakta dan data yang akurat.
“Mudah diduga dan diramalkan, kasus Jokowi akan memicu kasus Gibran. Kita harapkan Polisi tidak memeti-eskannya. Jika kasus Jokowi selesai maka kita boleh berharap kasus Gibranpun akan mengubah jalan politik nasional,” demikian Ikrar Nusa Bakti. (EJP)




























