Daily News | Jakarta – Biaya perang juga menguras kas kolonial lebih dari 20 juta gulden atau setara Rp1,8 triliun nilai saat ini
Begitulah, Anies Baswedan melalui kanal YouTube pribadinya mengulas buku monumental karya sejarawan Inggris, Peter Carey, berjudul Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785–1855.
Buku tiga jilid dengan total lebih dari 1.000 halaman ini disusun secara detail dan mendalam. Jilid kedua dimulai dari halaman 399, sedangkan jilid ketiga dibuka dari halaman 908 dan berisi lampiran serta daftar pustaka lebih dari 100 halaman. Menurut Anies, susunan tersebut mencerminkan keseriusan riset Carey mengenai sosok Pangeran Diponegoro.
Siapa Peter Carey?
Anies juga memperkenalkan sang penulis. Carey adalah sejarawan lulusan Oxford University yang dikenal sebagai pakar sejarah Indonesia, khususnya Diponegoro. Meski orang asing, Carey dianggap membumi: ia fasih berbahasa Indonesia dan Jawa, sederhana, rendah hati, bahkan sering menggunakan batik serta naik kendaraan umum.
Selain menulis, Carey juga mendirikan Jakarta School of Prosthetic and Orthotics di Cilandak Barat, sekolah yang melatih mahasiswa membuat kaki palsu bagi penyandang disabilitas.
Perlawanan Diponegoro
Anies menyoroti perlawanan Diponegoro yang dikenal sebagai Perang Jawa (1825–1830), salah satu perang terbesar di Nusantara. Perang lima tahun itu menelan korban besar: lebih dari 8.000 serdadu Belanda gugur, 7.000 tentara bayaran tewas, serta sekitar 200 ribu rakyat dan pejuang Indonesia meninggal. “Biaya perang juga menguras kas kolonial lebih dari 20 juta gulden atau setara Rp1,8 triliun nilai saat ini,” jelas Anies.
Diponegoro tampil bukan dari ambisi politik keraton, melainkan penderitaan ekonomi rakyat. Ia mampu menyatukan masyarakat dari berbagai lapisan di bawah panji Islam Jawa. Menurut Carey, Perang Jawa menjadi titik awal lahirnya gerakan kebangsaan. Kekalahan Belanda justru melahirkan Tanam Paksa, yang menambah penderitaan rakyat, sekaligus menekan politik di Belanda hingga muncul politik etis. Dari sinilah akses pendidikan terbuka, melahirkan generasi terdidik yang kelak memimpin perjuangan kemerdekaan.
Perjalanan spiritual
Anies juga menyinggung dimensi spiritual Diponegoro. Ia kerap menjalani tirakat di tempat sunyi, termasuk di Jejeran, Yogyakarta selatan. Dalam tirakat itu, Diponegoro mengaku bertemu penampakan Sunan Kalijaga yang meramalkan ia akan menjadi Raja Jawa. Ramalan ini memperkuat semangat perjuangannya.
Konflik mencapai puncak ketika Belanda memasang patok di Tegalrejo, tanah milik Diponegoro sekaligus makam leluhurnya. Pemasangan tanpa izin itu memicu kemarahan dan dianggap Carey sebagai penyebab langsung pecahnya Perang Jawa.
Menurut Anies, Kuasa Ramalan bukan sekadar biografi tokoh, melainkan karya akademik dengan rujukan kuat yang menghubungkan perlawanan Diponegoro, penderitaan rakyat, hingga lahirnya gerakan kebangsaan Indonesia. “Bagi pecinta sejarah, buku ini layak jadi bacaan penting untuk memahami perjalanan bangsa,” tegas Anies. (EJP)