Daily News | Jakarta – Salah satu bukti semangat Diponegoro masih ada pada Anies terlihat pada kasus pembangunan rusun Kampung Bayam. Dalam kasus ini, Anies membuktikan bahwa kewenangan yang dimilikinya saat menjadi Gubernur DKI Jakarta diprioritaskan untuk kaum lemah.
Begktulah, aktivis sosial kemasyarakatan, Beny Biki, menilai momentum 200 tahun pecahnya Perang Jawa menjadi relevan untuk kembali meneladani semangat Pangeran Diponegoro. Menurutnya, Anies Baswedan sebagai tokoh nasional perlu memodifikasi semangat Diponegoro agar tetap hidup dalam konteks kekinian.
“Anies harus memodifikasi ghirah Diponegoro agar lestari. Ia harus setia pada nilai kejujuran, kesediaan berkorban, amanah, dan tanggung jawab kepada rakyat. Sebagai pemimpin yang diberi amanah Tuhan, Anies harus meneladani nilai-nilai ideal Diponegoro,” kata Beny kepada KBA News, Sabtu (23/8/2025).
Beny menekankan, Diponegoro dikenang bukan hanya karena perannya dalam Perang Jawa, tetapi juga karena empati kepada rakyat kecil. Sebagai pangeran kaya raya, Diponegoro rela melepaskan hak istimewanya demi memperjuangkan keadilan. “Semangat antikorupsi, kejujuran, dan keberpihakan pada rakyat itu harus diterjemahkan ke dalam konteks masyarakat modern yang demokratis, peduli HAM, dan lingkungan,” ujarnya.
Semangat diponegoro di era Anies
Beny menilai semangat itu masih terlihat dalam kebijakan Anies saat membangun rusun Kampung Bayam. Anies memprioritaskan hak warga kecil dibanding kepentingan lain. “Kasus Kampung Bayam menunjukkan Anies mewujudkan semangat Diponegoro di era new media sekarang ini,” tegasnya.
Senada, jurnalis Bunaya Syaefudin menilai semangat Diponegoro tidak cukup hanya dipajang dalam bentuk foto di joglo rumah Anies. Ia harus diwujudkan secara nyata. “Sekarang sudah dilakukan. Joglo yang ada foto Diponegoro itu dibuka untuk publik, bisa dipakai gratis untuk pernikahan, pengajian, arisan, hingga rapat RT. Ini mirip dengan rumah Diponegoro di Tegalrejo yang dulu jadi pusat aktivitas rakyat,” ujarnya.
Spirit perlawanan dan keberpihakan
Diponegoro, kata Beny, adalah sosok elite yang memilih berpihak pada rakyat tertindas. Ia berani menantang kolonial dengan kejujuran dan sikap antikorupsi. Semangat itu, jika diturunkan dalam era modern, berarti keberanian melawan praktik kekuasaan yang menyimpang dan membela rakyat kecil.
“Anies sudah mulai mencontohkannya. Tinggal bagaimana spirit itu dijaga dan dimodifikasi agar tidak hilang dalam arus zaman baru,” pungkas Beny. (DJP)