Daily News | Jakarta – “Ikan yang ada di permukaan itu lebih mudah ditangkap. Sedangkan ikan yang di dasar sering kelewatan tanpa tersentuh pancing atau tidak tersentuh jaring.’’
Itulah analogi yang digambarkan tokoh nasional Anies Rasyid Baswedan terkait dengan sistem perpajakan di Indonesia. ‘’Mereka yang mudah dilacak di permukaan justru yang paling sering ditarikin. Sementara yang bersembunyi di kedalaman lolos dari jaring,’’ terang Anies, Sabtu, 23 Agustus 2025.
Dikutip KBA News dari saluran WhatsApp (WA) pribadinya, Anies menambahkan, dari hal tersebut maka saatnya kita mengubah strategi. ‘’Jadi jangan hanya memancing di permukaan yang mudah diambil tapi menyelam lebih dalam,’’ kata Gubernur Jakarta periode 2017-2022 tersebut.
Dikatakan Anies, mengapa yang mudah selalu menjadi sasaran? Sistem perpajakan kita ini memang dirancang untuk melacak yang mudah dan yang sudah tertib.
“Pegawai dengan slip gaji, UMKM dengan pembukuan rapi, pekerja lepas yang rajin melaporkan penghasilan, mereka ini seperti ikan di permukaan yang terlihat jelas dan mudah dijangkau,’’ terang dia.
Jadi ketika negara membutuhkan tambahan penerimaan, solusinya hampir selalu sama. Solusinya menambah beban bagi yang sudah patuh. Atau menaikkan pajak untuk publik luas seperti PPN dan PBB.
‘’Padahal beban ini yang justru paling mencekik kelas menengah ke bawah. Jadi keluhan tersebut sangat wajar. Jadi tidak heran yang patuh justru banyak bertanya, sudah tertib kok malah diperas terus? Gaji yang dipotong rutin, belanja yang dikenai pajak, PBB naik,’’ ungkap Anies.
Sementara, lanjut Anies, yang bersembunyi di kedalaman tetap aman-aman saja. Menurut dia, menaikkan PPN atau PBB di saat kebocoran masih besar adalah prioritas yang keliru. ‘’Yang rugi siapa, ya rakyat biasa seperti kita-kita ini semua.’’
Lanjut Anies, kini saatnya menyelam ke dasar danau. Di kedalaman banyak ikan-ikan besar yang lolos. Mereka sengaja menyembunyikan transaksi. Memanipulasi faktur. Memindahkan keuntungan ke negara lain. ‘’Itu semua dikerjakan untuk menghindari pajak,’’ kata mantan Mendikbud RI itu.
Secara global, terang Anies, praktik-praktik seperti ini menggerus ratusan miliar dollar per tahun. ‘’Lubang yang sebenarnya itu ada di sana. Bukan di slip gaji, bukan di struk belanja.’’
Apa yang bisa dilakukan? Ada tiga hal yang masuk akal yang kita bisa lakukan. Pertama, permudah yang patuh, persulit yang nakal. Bukan menambah beban bagi yang sudah tertib.
Yang kedua, maksimalkan kerjasama internasional untuk melacak transaksi-transaksi antar negara yang selama ini sulit dijangkau. Yang ketiga perbaiki sistem deteksi. Ini agar yang bersembunyi di kedalaman bisa terjaring.
‘’Jadi rumusnya sederhana. Tutup kebocoran dulu baru bicara penambahan beban. Lalu penguatan pengawasan. Semua itu jauh lebih efektif dari pada sekadar menaikkan tarif pajak. Dan hasilnya bisa langsung kita rasakan.’’ (EJP)