Daily News | Jakarta – Persatuan Indonesia, menurut Dr. Rita Wahyu Wulandari, tidak dibangun dengan demokrasi ala Barat, melainkan berakar pada nilai luhur dan budaya asli kepulauan Nusantara. Prinsip ini menjadi landasan toleransi antarumat beragama yang harus terus dijaga demi kemajuan bangsa majemuk seperti Indonesia.
Kasus intoleransi, kata Rita, perlu direspons serius agar “api kecil” tidak membesar menjadi ancaman persatuan. Penegakan hukum yang adil adalah kunci, seperti pada peristiwa perusakan rumah doa umat Kristen di Padang, Juli 2025, yang melukai dua anak.
Rita, tokoh Kristen dan akademisi yang mengajar kajian Ibrani di Israel Bible Center serta aktif di berbagai forum lintas iman, menilai Pancasila—khususnya sila pertama—adalah kompromi jenius yang mengakui kepercayaan kepada Tuhan tanpa menjadikan Indonesia negara agama. Pancasila seharusnya menjadi ideologi pemersatu yang mengakui, menghormati, dan mempersatukan perbedaan agama.
Tantangan toleransi
Intoleransi masih kerap terjadi, biasanya oleh kelompok yang merasa mayoritas. Menurut Rita, ini akibat kesalahan tafsir agama dan Pancasila—menganggap “Ketuhanan” identik dengan agama tertentu—serta lemahnya penegakan hukum yang memunculkan impunitas. Pendidikan kewarganegaraan dan agama pun masih cenderung teoritis, gagal membangun dialog dan empati lintas agama. Ia mendesak pemerintah pusat maupun daerah memberi sanksi tegas bagi pejabat yang membiarkan intoleransi.
Pendekatan dan aktivitas lintas iman
Rita lebih suka disebut pengajar ketimbang pengkhotbah. Ia menekankan peran budaya sebagai ruang perjumpaan lintas iman. Indonesia, dengan 1.340 suku, 718 bahasa daerah, enam agama resmi, dan kepercayaan lokal, memiliki kebhinekaan yang nyata sekaligus menjadi cita-cita.
Di Surabaya, ia aktif di Forum Beda Tapi Mesra, Roemah Bhinneka, dan Indonesia Merayakan Perbedaan, yang mempertemukan anggota dari semua agama dan kepercayaan untuk dialog dan aksi sosial. Surabaya, kata Rita, bisa menjadi contoh nasional dalam toleransi.
Dialog, menurutnya, tetap relevan. Ia mencontohkan Taman Bhinneka di Surabaya sebagai ruang pertemuan lintas agama, termasuk diskusi Ramadhan tentang puasa dari perspektif Kristen dan Islam. Dengan latar budaya Jawa dan pengaruh keluarga keraton, ia menggabungkan seni, sastra, dan musik tradisional dalam membicarakan nilai bersama lintas iman.
Rita juga kerap diundang dalam “trialog” akademik agama-agama Abrahamik, yang menyoroti figur Nabi Ibrahim/Ibrahim. Meski perbedaan tafsir ada, semua agama ini memuliakan Tuhan yang sama.
Catatan untuk pemerintah
Rita mengkritik politik identitas yang dieksploitasi untuk kepentingan elektoral, serta hukuman ringan bagi pelaku kekerasan atas nama agama. Ia menilai perlindungan hukum harus kuat dan adil.
Untuk memperkuat toleransi, ia mengusulkan pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal, pertukaran pelajar lintas agama, kolaborasi antar-kelompok, pemberdayaan kelompok rentan, serta penghargaan bagi daerah yang berhasil menjaga kerukunan—misalnya Anugerah Desa Bhinneka.
Bagi Rita, semangat Bhinneka Tunggal Ika adalah kunci menjaga persatuan di tengah keberagaman, sebuah persatuan yang lahir dari akar budaya dan nilai luhur bangsa. (DJP)