Daily News | Jakarta – Biasanya perbincangan soal korupsi memang tinggi, tapi cenderung negatif. Yang menarik dari kasus Tom Lembong adalah nuansa positif yang dominan. Warganet justru menunjukkan simpati dan dukungan.
Beigutlsah, percakapan publik tentang kasus Tom Lembong memicu ledakan interaksi di media sosial. Tak tanggung-tanggung, dalam periode 2 Juli hingga 4 Agustus 2025, kasus ini mencatat lebih dari 78.000 mention dan mencapai 6 miliar interaksi lintas platform.
Temuan tersebut disampaikan Ketua Analis Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid, dalam diskusi bertema “Kasus Tom Lembong: Hukum atau Politik” yang digelar oleh Forum INSAN CITA dan disiarkan melalui kanal YouTube, dikutip KBA News, Senin, 4 Agustus 2025.
“Biasanya perbincangan soal korupsi memang tinggi, tapi cenderung negatif. Yang menarik dari kasus Tom Lembong adalah nuansa positif yang dominan. Warganet justru menunjukkan simpati dan dukungan,” ungkap Rizal.
Menurut Rizal, percakapan terbanyak berasal dari Twitter (X) dan TikTok. Yang mengejutkan, pengguna TikTok yang mayoritas adalah kalangan Gen Z, termasuk pelajar SMA tertarik dengan kasus Tom Lembong. Padahal selama ini Gen Z dikenal kurang tertarik pada isu korupsi.
“Gen Z aktif mengikuti kasus ini karena percakapannya sangat tinggi. Selain itu, ada partisipasi besar dari kelompok ibu-ibu di media sosial yang turut menyuarakan dukungan,” tambahnya.
Dua titik puncak: vonis dan abolisi
Drone Emprit mencatat dua puncak utama dalam perbincangan warganet, yakni:
– 19 Juli 2025: Saat vonis Tom Lembong dibacakan
– 1 Agustus 2025: Saat ia resmi memperoleh abolisi
“Pada 19 Juli, banyak tokoh nasional hadir di ruang sidang. Gambar-gambar mereka—seperti Anies Baswedan, Rocky Gerung, dan sejumlah tokoh lainnya—yang tampak tersenyum atau tertawa, seolah peradilan yang lucu, menjadi konten yang paling banyak dibagikan,” ujar Rizal.
Sementara itu, pada 1 Agustus, momen pembebasan Tom Lembong disambut hangat para pendukungnya dan mendapat amplifikasi besar dari media online. Hal ini menyebabkan lonjakan interaksi digital yang sangat tinggi.
Setelah dua momentum tersebut, perbincangan di media sosial mulai melandai.
Empat klaster besar
Rizal memetakan bahwa percakapan soal Tom Lembong didorong oleh empat klaster besar, yaitu:
1. Aktivis: Tokoh-tokoh nasional yang cenderung berseberangan dengan pemerintahan Jokowi.
2. Publik Umum : Warganet yang melek politik dan hukum.
3. Pendukung Tom Lembong: Termasuk Anies Baswedan dan simpatisannya.
4. Media Online: Yang aktif memberitakan perkembangan kasus.
“Menariknya, dalam kasus ini, oposisi terhadap Prabowo tidak terlalu tampak. Justru yang aktif bersuara adalah oposisi terhadap Presiden Jokowi,” terang Rizal.
Ia juga menyoroti aktivitas unggahan dari Anies Baswedan yang banyak mendapat respons dan memicu perbincangan masif di media sosial.
Lebih lanjut, Rizal mencatat bahwa kasus Tom Lembong juga menjadi perhatian kalangan pemilih PDIP, terutama terkait isu abolisi dan amnesti. Tokoh seperti Mahfud MD ikut menyuarakan pandangannya dan unggahannya mendapat sambutan positif di media sosial.
“Pada momen abolisi dan amnesti ini, terlihat sisa ketegangan Pilpres 2024 justru menyatukan kubu Anies Anies Baswedan dan sebagian simpatisan PDIP. Mereka sepakat bahwa kasus Tom Lembong dan amnesti Hasto Kristiyanto adalah persoalan politik, bukan murni hukum,” jelas Rizal. (EJP)