Daily News | Jakarta – Di tengah arus disrupsi digital yang semakin deras, perusahaan tidak lagi punya kemewahan untuk berjalan lambat. Mereka harus berubah secara cepat, strategis, dan menyeluruh. Untuk membedah tantangan ini, CAMY.ID menghadirkan talkshow BusinessTalk bertajuk “Comprehensive Transformation Program: Driving Corporate Transformation in Digital Disruption”, yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube CAMY.ID pada Rabu, 6 Agustus 2025, pukul 14.00 WIB.
Empat pembicara visioner tampil dalam diskusi berdaging ini: Fadlan Irsyad, Wachid Usman, Muhammad Hatta, dan Legisan Samtafsir. Masing-masing membawa perspektif unik dari strategi manajemen SDM, kepemimpinan dalam krisis, digitalisasi organisasi, hingga pendekatan mendalam soal nilai dan keyakinan individu.
Mengawali diskusi, Fadlan membuka dengan pertanyaan mendasar: “Apa yang sebenarnya membuat seseorang bisa berkontribusi maksimal di sebuah organisasi?” Jawabannya: kombinasi dari kemauan, pengetahuan, dan kemampuan.
Menurutnya, banyak perusahaan terjebak menilai hanya dari hasil kerja, padahal potensi seseorang lebih kompleks. “Mau kerja keras, paham tugasnya, dan punya kapasitas untuk mengeksekusi—itu tiga fondasi yang tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.
Tak hanya itu, Fadlan juga menekankan pentingnya pengelolaan SDM berbasis siklus PDCA (Plan – Do – Check – Action) sebagai pendekatan yang terbukti mampu memastikan pengembangan yang terstruktur dan berkelanjutan. “Perusahaan harus mampu merencanakan pengembangan SDM dengan cermat, melaksanakannya secara disiplin, mengevaluasi hasilnya secara objektif, dan melakukan perbaikan terus-menerus,” ujarnya.
Ia menggarisbawahi pentingnya sistem karier yang memberi ruang tumbuh. Loyalitas, katanya, tidak hanya harus diberikan kepada perusahaan, tapi juga kepada profesi. Dari situlah muncul semangat belajar, dorongan inovasi, dan daya tahan menghadapi perubahan.
Wachid Usman: Tanpa Komitmen CEO, Transformasi Hanya Wacana
Wahid Usman hadir membawa narasi nyata tentang perusahaan yang gagal—bukan karena produk buruk, tapi karena **lambat beradaptasi. Dari pandemi hingga krisis geopolitik, realitas bisnis terus berubah, dan perusahaan yang tak siap, akan tumbang.
Ia menegaskan bahwa transformasi hanya bisa terjadi jika dimulai dari puncak: komitmen CEO adalah titik awal perubahan.
Wahid kemudian merinci strategi konkret yang ia gunakan dalam menghadapi krisis:
* Tinjau budaya kerja,
* Lakukan musyawarah lintas divisi,
* Terapkan Management Control System (MCS) agar seluruh tim bergerak ke arah yang sama,
* Bagi peran secara strategis,
* Bentuk kepemimpinan yang kuat dan membangun budaya kolaboratif.
“Transformasi itu bukan proyek. Ia harus menjadi sistem hidup dalam organisasi,” tegasnya.
Muhammad Hatta : Digital Leadership adalah Kunci, Tapi SDM Tetap Fondasi
Ketika membahas transformasi digital, Hatta langsung menembak satu hal penting: “Teknologi bisa dibeli. Tapi SDM yang siap berubah itu yang menentukan apakah transformasi berhasil atau gagal.”
Ia menyoroti pergeseran peta kompetisi: kini bukan lagi perusahaan melawan perusahaan, tapi rantai pasok melawan rantai pasok. Kecepatan dan efisiensi menjadi kunci. Ia pun membagikan contoh menarik dari China: dark factory pabrik otomatis yang bekerja tanpa lampu dan tanpa manusia. Namun, ia menegaskan, bahkan teknologi tercanggih tetap butuh manusia di balik kendali.
Bagi Hatta, keberhasilan transformasi digital harus dimulai dari:
* SDM yang memahami visi & KPI organisasi,
* Remunerasi yang adil dan kompetitif,
* Perekrutan berbasis potensi dan kesesuaian budaya,
* Serta struktur organisasi yang mampu tumbuh secara sistematis dan berkelanjutan.
Legisan Samtafsir: Transformasi Sejati Dimulai dari Dalam Diri
Menutup talkshow dengan nada yang reflektif namun kuat, Legisan mengajak audiens menyelam lebih dalam: ke ranah keyakinan, prinsip, dan nilai yang dipegang setiap individu dalam organisasi.
Ia menggunakan analogi pohon: daun dan buah mencerminkan kinerja, namun akar adalah sistem keyakinan. “Kita tak bisa berharap performa tinggi dari orang-orang yang tidak punya akar yang kuat yaitu nilai hidup, integritas, dan kesadaran akan tujuan,” ujarnya.
Transformasi, katanya, bukan hanya urusan teknologi atau strategi. Itu soal membentuk manusia yang benar. Ia pun menawarkan pendekatan 3 langkah:
1. Gali keyakinan personal—apa yang penting bagi mereka?
2. Hubungkan nilai pribadi dengan nilai perusahaan.
3. Jadikan itu bagian dari budaya kerja dan sikap profesional sehari-hari.
Menyatukan Visi untuk Arah Baru
BusinessTalk CAMY.ID kali ini menjadi ruang strategis bagi para pelaku bisnis dan profesional untuk memahami bahwa transformasi bukan sekadar adaptasi—tapi rekonstruksi menyeluruh terhadap cara berpikir, bekerja, dan memimpin.
Dari pembicaraan ini, satu benang merah terlihat jelas: teknologi dan strategi penting, tetapi SDM dan nilai-nilai manusialah yang menjadi inti dari transformasi berkelanjutan. (DJP)