Daily News | Jakarta – Pelajaran lainnya bagi pejabat publik atas kasus Pati, mereka sebelum membuat kebijakan untuk rakyat harus menjalankan metode penggalangan sosial dengan baik.
Maka, jurnalis senior dan mantan Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat, Bambang Wiwoho, mengatakan apa yang kini terjadi harus menjadi bahan pembelajaran konkret oleh para jajaran elite politik. Mereka harus bijak menyikapi kondisi rakyat dengan bertindak bijaksana dan tidak arogan di dalam bertutur serta bersikap.
‘’Apa yang terjadi di Pati di mana rakyat ramai-ramai berdemonstrasi menuntut bupati mundur atau pemakzulan kini menjadi bukti bahwa keresahan di masyarakat bawah bisa memicu amuk sosial. Potensi ini telah konkret ada dan sewaktu-waktu bisa menyebar dicontoh wilayah lain. Maka elite hargailah rakyat yang kondisi hidupnya kini terhimpit banyak masalah, baik itu ekonomi dan sosial,’’ kata Wiwoho, kepada KBA News, Kamis pagi, 14 Agustus 2025.
Khusus untuk Pati, lanjutnya, sebelum muncul persoalan besar, terutama soal kenaikan pajak PBB sampai 250 persen, sebenarnya komunikasi antar warganya yang tersebar di mana-mana, sudah terjadi sangat intens. Dan atensi ini semakin besar ketika pihak pejabat bupati Pati menanggapinya dengan sikap arogan.
‘’Pelajaran lainnya bagi pejabat publik atas kasus Pati, mereka sebelum membuat kebijakan untuk rakyat mereka harus menjalankan metode penggalangan sosial dengan baik. Hal itu adalah melakukan situasi prakondisi, lalu mengondisikan agar mendapat umpan balik yang tepat, kemudian baru menetapkan kebijakan final. Setelah itu harus juga melanjutkannya dengan melakukan sosialisasi atas kebijakan secara baik kepada publik. Jadi elite di sini harus jaga mulut agar tidak bicara serampangan,’’ ujar Wiwoho lagi.
Bila melihat apa yang terjadi di Pati, pada satu sisi pemimpin masa kini harus paham secara persis akan perasaan dan budaya masyarakatnya. Rakyat Indonesia yang mempunya budaya yang lunak (soft culture) tidak bisa dianggap sebelah mata. Ini karena orang Indonesia bisa saja melakukan tindakan tak terkendali (amuk) bila perasaan dan hati mereka yang terdalam telah tersakiti.
‘’Khusus untuk Pati dan orang Jawa pada umumnya ada istilah sendumuk bathuk senyari bumi sun labuhi pecahing dodo wutahing ludiro. Artinya, meski hanya ditepuk kepalanya dan hanya soal sejengkal tanah, namun bila itu sudah merendahkan hak dan harga diri maka akan dibela sampai dada remuk berlumuran darah. Nah inilah yang sekarang terjadi di Pati dan punya potensi meluas ke wilayah lain,’’ tegasnya.
Pati dan budaya perlawanan
Wiwoho juga mengatakan bila mengkaji sejarah Pati, semua pihak perlu pula mengetahui latar belakang budaya perlawanan rakyat di daerah itu. Yang paling fenomenal adalah budaya perlawanan dalam diam yang dilakukan Samin Surosentiko yang sudah muncul seabad silam, kala Indonesia berada dalam era penjajahan.
‘’Samin sekitar seabad silam, melawan penguasa dengan tidak mau membayar pajak. Nah, ini sekarang juga terjadi. Masyarakat Pati berdemonstrasi menumbangkan bupatinya yang menaikkan pajak secara gila-gilaan. Belum lagi soal perlakuan bupati Pati yang sewenang-wenang kepada para pendukungnya saat Pilkada. Jadi tak hanya soal pajak, tapi banyak soal lain yang juga menjadi pemicunya telah menumpuk lama,’’ kata Wiwoho.
Yang unik lagi, orang Pati dan wilayah sekitarnya, semenjak dahulu memang sudah punya sejarah perlawanan kepada para penguasa. ’’Misalnya adanya peristiwa Sultan Trenggana dari Kerajaan Demak yang pada tahun 1514 mati ditikam keris abdinya hanya gara-gara kepalanya ditepuk dengan nada marah.”
Juga adanya perlawanan dari Adipati Bergolo dari Pati, yang dikenal juga sebagai Adipati Pragola. Dia adalah tokoh sejarah dari Kadipaten Pati yang terlibat dalam pemberontakan terhadap Kesultanan Mataram. Ada dua tokoh yang dikenal dengan nama Adipati Pragola: Pragola I yang melawan Panembahan Senopati dan Pragola II yang melawan Sultan Agung.
“Adipati Pragola I melawan Panembahan Senopati yang menikahi adiknya namun kemudian kawin lagi dengan putri dari Madiun yang bernama Retno Dumilah. Kala itu Pati berani memutuskan mengobarkan perang melawan Kerajaan Mataram. Setelah itu di masa kini, ada perlawanan petani pegunungan Kendeng yang menolak lahannya dijadikan tambang pabrik semen,” tegasnya.
“Sekali lagi jangan main-main dengan nasib rakyat kecil. Ingat perlawanan Pati pada hari ini dilakukan oleh orang-orang biasa, Mereka kini mampu lancar berkomunikasi dan mengorganisasi dirinya dengan pihak lain dengan memanfaatkan teknologi baru, yakni handphone. Semua kemungkinan bisa terjadi maka para elite waspadahlah!” tandas Bambang Wiwoho. (EJP)