Daily News | Jakarta – Kemerdekaan sejati tak cukup diproklamasikan. Ia harus diperjuangkan dalam benak dan tindakan, pilihan dan pendirian. Maka bangsa Indonesia mesti terus belajar menjadi merdeka, mengenali diri, menjaga martabat, dan menempuh jalan meski tanpa petunjuk apa yang selama dipikirkan sebagai tuannya,
cBegitulah, endikiawan dan aktvisi sosial keagamaan, Prof. Yudi Latif M.A., Ph.D, menegaskan saat ini sudah delapan dekade kekuasaan penjajah menyingkir dari tanah air Indonesia. Namun, bayang-bayangnya masih menetap di dalam kepala banyak orang dan malah telah berwujud seperti asap yang menggumpal di ruangan tertutup, meski api penjajah itu telah lama padam.
“Warisan paling getir dari kolonialisme bukan sekadar genangan darah atau tandasnya sumber daya. Yang paling menyakitkan justru yang tak kasat mata: perbudakan jiwa. Penjajahan senyap yang menyusup ke relung terdalam—merampas kejernihan akal, mencabut kedalaman rasa, mematikan manusia di pusat jatidirinya,’’ kata Yudi Latif, ketika mengomentari kiriman tulisanya, kepada KBA News, Selasa pagi, 5 Agustus 2025.
Menurut Yudi, kesadaran akan kemerdekaan sejati itu merupakan mental-kejiwaan laksana mata air kesadaran. Dari sanalah kemudian mengalir berbagai ingatan, luka, harapan, arah, dan kehendak. “Karena di bawah genggaman kuasa penjajah itulah mata air kesadaran itu menjadi keruh. Bangsa ini dijauhkan dari sumber asal, dikeringkan dari sikap percaya diri, dan tercampakkan dari tanah tempat tumbuh.”
Memang, penjajahan boleh saja usai, tetapi residunya menetap dalam bentuk kesadaran yang tak utuh. Hal ini menyebabkan bangsa meski merdeka namun hanya di atas kertas. Mereka kemudian masih kerap kehilangan wajahnya di cermin, sering lupa diri, ragu pada kemampuan, dan gentar untuk berdiri sendiri.
Maka, jiwa bangsa yang tak merdeka ini pun menjadi gamang. Mereka tak tahu ke mana, tak mampu menentukan bagaimana. “Alhasil, dalam kegamangan itu, lahirlah dua wajah dari jiwa terjajah,’’ tegas Yudi yang juga penulis yang selama ini aktif menyebarkan gagasan mengenai perlunya internalisasi nilai kebangsaan dan Pancasila.
Selain itu, Yudi mengatakan setelah 80 tahun Merdeka, Indonesia jangan lagi mempunya mental menjadi bangsa peniru yang selalu menyalin gerak tuannya, menengadah ke langit asing, melupakan bumi sendiri. Sebab, bila berada dalam bayang-bayang itu, bangsa Indonesia menjadi konformis yang menanggalkan daya cipta serta sekedar menjadi gema yang abai pada rasa dan harga diri.
‘’Mental yang harus ditinggalkan selain sebagai bangsa peniru, adalah menjadi bangsa yang bermental penurut. Ini artinya menjadi bangsa yang bukan hanya meniru, tapi menyerahkan kendali jiwa. Ia menjelma hamba bagi kehendak luar, mengorbankan pilihan demi rasa aman palsu. Maka bila hal itu terjadi, dari tanah ini tumbuhlah benih pecundang dan tiran dari jiwa-jiwa yang rela dikendalikan demi kelangsungan yang semu,’’ tegasnya.
Kemerdekaan sejati tak cukup diproklamasikan. Ia harus diperjuangkan dalam benak dan tindakan, pilihan dan pendirian. “Kita mesti terus belajar menjadi merdeka, mengenali diri, menjaga martabat, dan menempuh jalan meski tanpa petunjuk apa yang selama dipikirkan sebagai tuannya”.
Mengapa harus demikan? Yudi menegaskan, ini karena merdeka sejatinya bukan hanya soal lepas dari belenggu penjajah. Namun, kemerdekaan adalah pada masa kini adalah berati sebuah keberanian menyalakan obor dalam diri, bersuara dengan lidah sendiri, melangkah dengan kaki sendiri.
’’Semua itu akhirnya berpulang kepada bangsa Indonesia sendiri apakah akan berani berdiri tegak di tanah keyakinannya sendiri, meski dunia menoleh ke arah lain?’’ tandas Yudie Latif. (HMP)